Ceramah Aliran Darah oleh Bodhidharma

Dibagikan oleh Lotuschef – 12 Februari 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Bodhidharma’s Bloodstream Sermon

Bersumber dari Bodhidharma, Sang Patriak Zen
注:此经出自《大藏经》第48卷.
Catatan: Diambil dari <Tripitaka Sutra> Bab 48

Ayat pembuka:
三界混起,同归一心,前佛后佛,以心传心,不立文字。
Semua yang muncul di tiga alam berasal dari pikiran. Demikianlah Buddha dari masa lampau dan masa mendatang mengajarkan langsung dari pikiran ke pikiran tanpa memerlukan tulisan kata-kata.

~~~~~~~~~~~~

Ceramah Aliran Darah oleh Bodhidharma

Oleh Dr. Tan Kheng Khoo

Pikiran adalah Buddha, nirwana atau pencerahan.
Ia adalah realitas dari kodrat.
Pikiran adalah kodrat Buddha.
Siapapun yang melihat kodratnya sendiri adalah seorang Buddha.
Tiada gunanya mengundang Buddha, menjapa sutra, memberikan persembahan dan menjaga sila, bila kamu tak melihat kodratmu sendiri.
Seharian pergi berkeliling mencari seorang Buddha benar-benar menyia-nyiakan waktu.
Cukup realisasikan kodratmu sendiri.
Tiada Buddha di luar kodrat Buddhamu.
Kodrat dari pikiran ini pada dasarnya kosong, tak suci ataupun ternoda.
Kodrat ini terbebas dari sebab dan akibat.
Kodrat Buddha ini tak perlu melakukan latihan ataupun realisasi.
Ia tak melakukan kebaikan ataupun kejahatan; ia tak menjaga sila.
Ia tak malas ataupun bertenaga.
Ia tak melakukan apapun.
Seorang Buddha bukanlah seorang Buddha.
Tanpa melihat kodratmu, kamu tak akan mampu melatih “tiada pikiran” secara terus-menerus.
Pikiran ini atau kodrat Buddha bukanlah pikiran yang sensual (inderawi).
Ia tak pernah hidup ataupun mati di sepanjang segala kalpa.
Sang pikiran tak punya wujud dan kesadarannya tak terbatas.

“Wujud seorang tathagata banyaknya tak terhingga. Begitu pula dengan kesadarannya.”

Pikiran kita sama dengan pikiran semua Buddha.

“Semua yang punya wujud adalah ilusi belaka.”

“Di manapun kamu berada, di sana ada Buddha.”

Kita selalu punya kodrat Buddha kita sendiri.

Pikiran kita adalah Sang Buddha: jangan memuja seorang Buddha dengan seorang Buddha.
Begitu seseorang menyadari pikirannya atau kodrat Buddha-nya, ia berhenti menciptakan karma.

Pikiranmu bagaikan angkasa: kamu tak bisa merengkuhnya.
Tak ada sebab ataupun akibat di dalamnya.
Tiada yang mampu memahaminya.
Pikiran ini bukan berada di luar tubuh, yang tak punya kesadaran.
Bukan tubuh yang bergerak, tapi pikiranlah yang bergerak.

Ceramah ini membahas mengenai Kodrat Buddha, yang kosong dan tak memiliki wujud.
Kita selalu punya kodrat Buddha di dalam diri kita, dan ceramah ini juga menggambarkan kodrat Buddha secara mendetil.
Namun tak mengajarkan kita cara melihat kodrat Buddha kita.

~~~~~~~~~~~

Di atas ini adalah ringkasan ceramah yang cukup akurat.

Silakan menikmatinya!

Semoga kamu mendapatkan kunci-kunci untuk membantumu dalam melatih diri!

Salam semuanya.

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

~~~~~~~~~~~

Terjemahan lengkap Ceramah Aliran Darah dari Patriak Bodhidharma.
Sumber: The Zen Teachings of Bodhidharma
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Red Pine 1987

Ceramah Aliran Darah

Semua yang muncul di tiga alam berasal dari pikiran. Demikianlah Buddha dari masa lampau dan masa mendatang mengajarkan langsung dari pikiran ke pikiran tanpa ambil pusing mengenai berbagai macam definisi. Namun kalau mereka tak mendefinisikannya, apa yang mereka maksud dengan pikiran? Kamu akan bertanya. Itu pikiranmu. Begitu jawabanku. Itu pikiranku. Kalau aku tak punya pikiran, bagaimana caraku menjawab? Kalau kamu tak punya pikiran, bagaimana caramu bertanya? Yang bertanya itulah pikiranmu. Setelah melewati berkalpa-kalpa tanpa awal dan akhir, apapun yang kamu lakukan, di manapun kamu berada, itulah pikiranmu yang sebenarnya, itulah Buddha-mu yang sesungguhnya. Pikiran ini adalah Sang Buddha, ia masih sama. Di luar pikiran ini, kamu tak akan menemukan Buddha yang lain. Mencari pencerahan atau nirwana di luar pikiran ini adalah hal yang tak mungkin. Realitas sifat sejati (kodrat)-mu  – ketiadaan sebab dan akibat, adalah yang dimaksudkan sebagai pikiran. Pikiranmu adalah nirwana. Kamu mungkin berpikir kamu bisa menemukan Buddha atau pencerahan di suatu tempat di luar pikiran, tapi sayangnya tempat itu tak ada.

Mencoba untuk menemukan Buddha atau pencerahan adalah bagaikan menggenggam angkasa. Angkasa punya nama, tapi tak punya wujud. Ia bukan sesuatu yang bisa kamu ambil atau letakkan. Dan kamu tentunya juga tak bisa menggenggamnya. Di luar pikiran, kamu tak akan pernah melihat seorang Buddha. Sang Buddha adalah sebuah produk dari pikiran. Lalu kenapa mencari seorang Buddha di luar pikiran ini?

Para Buddha di masa lampau dan masa mendatang hanya membahas tentang pikiran ini. Pikiran ini adalah Sang Buddha, dan Sang Buddha adalah pikiran. Di luar pikiran tersebut tiada Buddha, dan di luar Buddha tak ada yang namanya pikiran. Bila kamu pikir ada Buddha di luar pikiran, mohon tanya dia ada di mana? Tak ada Buddha di luar pikiran, kenapa harus membayangkannya? Kamu tak akan mengetahui pikiranmu yang sesungguhnya selama kamu menipu dirimu sendiri. Selama kamu terpesona oleh wujud yang tak bernyawa, kamu tak akan terbebaskan. Kalau kamu tak percaya padaku, maka menipu dirimu sungguh tak akan menolong. Ini bukanlah kesalahan Buddha. Namun orang-orang memang sungguh tersesatkan. Mereka tak sadar kalau pikiran mereka sendiri adalah Sang Buddha. Kalau tidak, maka mereka tak akan mencari seorang Buddha di luar pikiran sendiri.

Buddha tak menyelamatkan Buddha. Bila kamu menggunakan pikiranmu untuk mencari seorang Buddha, kamu tak akan melihat Sang Buddha. Selama kamu mencari-cari Buddha di tempat lain, kamu tak akan melihat bahwa pikiranmu sendiri adalah Buddha. Jangan menggunakan seorang Buddha untuk memuja seorang Buddha. Dan jangan pula menggunakan pikiran untuk mengundang seorang Buddha. Para Buddha tak menjapa sutra. Mereka tak menjaga sila. Dan mereka juga tak melanggar sila. Mereka tak menjaga atau melanggar apapun. Para Buddha tak melakukan kebaikan maupun kejahatan.

Untuk menemukan seorang Buddha, kamu harus melihat kodratmu sendiri. Siapapun yang melihat kodratnya sendiri adalah seorang Buddha. Bila kamu tak melihat kodratmu, maka mengundang para Buddha, menjapa sutra, memberikan persembahan, dan menjaga sila – semuanya tak berguna. Mengundang Buddha akan menghasilkan karma baik, menjapa sutra membuat ingatan menjadi baik, menjaga sila membuatmu mendapatkan kelahiran kembali yang baik, dan memberikan persembahan menghasilkan berkat di masa mendatang – tapi tak menghasilkan Buddha. Bila kamu tak berusaha memahaminya sendiri, kamu perlu mencari seorang guru untuk menemukan titik ujung dari kehidupan dan kematian. Namun bila ia tak melihat kodratnya sendiri, orang semacam itu bukanlah guru. Bahkan bilapun ia mampu menjapa 12 macam kanon, ia tak akan mampu melepaskan diri dari Roda Kehidupan dan Kematian. Ia akan menderita di tiga alam tanpa bisa berharap untuk terlepas darinya. Dahulu kala, bhiksu Bintang Baik mampu menjapa keseluruhan kanon. Tapi ia tak mampu melepaskan diri dari Sang Roda, itu karena ia tak mampu melihat kodratnya sendiri. Kalau itu yang terjadi dengan Bintang Baik, maka melihat orang-orang jaman sekarang yang menjapa beberapa sutra atau sastra, dan berpikir kalau hal tersebut adalah Dharma, sungguhlah orang-orang bodoh. Kalau kamu tak melihat pikiranmu sendiri, menjapa banyak prosa juga tak ada gunanya.

Untuk menemukan seorang Buddha, yang perlu kamu lakukan adalah melihat kodratmu sendiri. Kodratmu adalah Sang Buddha. Dan Sang Buddha adalah orang yang bebas: bebas dari segala macam rencana, bebas dari segala macam kecemasan. Kalau kamu tak melihat kodratmu dan pergi berkeliling mencari-carinya, kamu tak akan menemukan seorang Buddha. Ada sebuah kebenaran bahwa “tak ada yang perlu dicari.” Namun untuk mencapai pemahaman seperti itu kamu akan butuh seorang guru, dan kamu harus berjuang untuk membuat dirimu paham. Hidup dan mati adalah hal yang penting. Makanya jangan disia-siakan.

Sungguh tak ada manfaat dengan menipu dirimu sendiri. Bahkan bila kamu punya segunung perhiasan, dan pelayan yang banyaknya bagai butiran pasir di sepanjang Sungai Gangga, kamu hanya bisa melihat mereka saat matamu terbuka. Namun bagaimana halnya saat matamu ditutup? Kamu harus menyadarinya bahwa apapun yang kamu lihat adalah bagaikan sebuah mimpi atau ilusi.

Kalau kamu tak segera menemukan seorang guru, kamu akan hidup dengan penuh kesia-siaan. Sungguh benar, memang kamu punya kodrat Buddha. Tapi tanpa bantuan seorang guru, kamu tak akan pernah mengetahuinya. Hanya satu dari sejuta orang yang mampu tercerahkan tanpa bantuan seorang guru. Bila memang demikian, karena berbagai kondisi yang sesuai, seseorang paham akan apa yang dimaksudkan oleh Buddha, dan oleh karenanya ia tak memerlukan seorang guru. Orang seperti itu punya kesadaran alamiah yang mengungguli apapun yang pernah diajarkan. Bila kamu bukan orang yang terberkati seperti itu, maka belajarlah dengan tekun, dan lewat berbagai instruksi maka kamu akan memahaminya.

Orang-orang yang tak paham dan berpikir bisa melakukannya tanpa belajar adalah tiada beda dengan jiwa-jiwa tersesat yang tak bisa membedakan antara putih dan hitam. Salah membabarkan Buddha Dharma, orang-orang seperti ini sesungguhnya malah menghina Sang Buddha dan merusak Dharma. Mereka berkotbah layaknya mereka mampu menurunkan hujan. Tapi yang dikotbahkan adalah ajaran iblis, bukan Buddha. Guru mereka adalah Raja Iblis dan murid-murid mereka adalah antek-antek Iblis. Orang-orang tersesat yang mengikuti arahan semacam itu tanpa disadari malah makin terperosok ke dalam Lautan Kelahiran dan Kematian. Bila mereka tak mampu melihat kodratnya, bagaimana caranya mereka menyebut dirinya Buddha? Mereka adalah pembohong yang menipu orang-orang lain supaya masuk ke alam para iblis. Bila mereka tak mampu melihat kodratnya, ajaran mereka mengenai 12 kanon juga sama saja dengan ajaran iblis. Mereka patuh kepada Mara, bukannya kepada Buddha. Berhubung mereka tak mampu membedakan putih dari hitam, bagaimana caranya melepaskan diri dari kelahiran dan kematian?

Siapapun yang melihat kodratnya sendiri adalah seorang Buddha, sebaliknya yang tidak adalah manusia awam. Namun bila kamu bisa menemukan kodrat Buddhamu dari kodrat awammu, kamu akan bertanya: ada di mana? Kodrat awam kita adalah kodrat Buddha kita. Di luar kodrat ini tak ada Buddha. Sang Buddha adalah kodrat kita. Tak ada Buddha selain kodrat ini. Dan tak ada kodrat selain Sang Buddha. Tapi misalkan aku tak melihat kodratku, memangnya aku tak bisa mendapatkan pencerahan dengan mengundang Buddha, menjapa sutra, memberikan persembahan, menjaga sila, memberikan bakti pelayanan, ataupun melakukan perbuatan baik?

Tidak, kamu tak bisa. Memangnya kenapa tidak?

Kalaupun kamu mendapatkan sesuatu, hal tersebut hanyalah kondisional (bersyarat), itu karena karma. Ia adalah hasil dalam bentuk retribusi. Ia memutar Sang Roda. Dan selama kamu masih tercengkeram kelahiran dan kematian, kamu tak akan mendapatkan pencerahan. Kamu harus melihat kodratmu sendiri untuk mencapai pencerahan. Kalau tidak, semua pembahasan mengenai sebab dan akibat sungguhlah tak masuk akal. Para Buddha tak melatih omong kosong. Seorang Buddha sudah terbebaskan dari karma, bebas dari sebab dan akibat. Kalau dibilang ia mencapai sesuatu hal, berarti memfitnah Buddha. Apanya yang bisa dicapai olehnya? Bahkan berfokus pada sebuah pikiran, sebuah kesaktian, sebuah pemahaman, ataupun sebuah pandangan adalah hal yang tak mungkin bagi seorang Buddha. Seorang Buddha tidaklah sepihak. Kodrat pikirannya pada dasarnya adalah kosong, bukan suci, juga bukan bernoda. Ia bebas dari segala macam praktik dan realisasi. Ia bebas dari sebab dan akibat.

Seorang Buddha tak menjaga sila. Ia tak melakukan kebaikan ataupun kejahatan. Ia tak bertenaga ataupun malas. Ia adalah seseorang yang tak melakukan apapun, orang yang bahkan tak memfokuskan pikirannya pada seorang Buddha. Seorang Buddha bukanlah Buddha. Janganlah berpikir akan para Buddha. Bila kamu tak paham apa yang sedang kubicarakan, maka kamu tak akan memahami pikiranmu sendiri. Orang-orang yang tak melihat kodratnya sendiri dan membayangkan mereka mampu melatih “tiada pikiran” secara terus-menerus adalah pembohong dan orang bodoh. Mereka terjatuh ke dalam ruang yang tak ada ujungnya. Bagaikan orang mabuk, mereka tak bisa membedakan antara yang baik dengan yang jahat. Bila kamu bermaksud melatih hal demikian, kamu harus sudah mampu melihat kodratmu sendiri sebelum mengakhiri pikiran yang rasional. Mencapai pencerahan tanpa melihat kodratmu sendiri adalah suatu hal yang tak mungkin terjadi. Tapi masih saja ada orang-orang yang melakukan banyak kejahatan dan menganggap tak ada yang namanya karma. Orang-orang seperti ini salah menganggap bahwa berhubung segala hal adalah kosong, maka berbuat kejahatan bukanlah hal yang salah. Demikianlah mereka akan terjatuh ke neraka dengan kegelapan yang tak berujung tanpa ada harapan untuk terbebaskan. Demikianlah orang yang bijak tak akan percaya akan konsep seperti itu.

Tapi kalau setiap kondisi atau gerakan kita, kapanpun muncul, merupakan pikiran; kenapa kita tak melihat pikiran ini saat tubuh seseorang mati?

Pikiran selalu ada. Kamu hanya tak bisa melihatnya saja.

Kalau ada, kenapa aku tak melihatnya?

Apakah kamu pernah bermimpi?

Tentu saja.

Saat kamu bermimpi, apakah itu dirimu?

Ya, itu aku.

Dan apakah yang kamu lakukan dan katakan berbeda darimu?

Tidak, tak berbeda.

Kalau memang tak berbeda, maka tubuh ini adalah tubuhmu yang sesungguhnya. Dan tubuh yang sesungguhnya ini adalah pikiranmu. Dan pikiran ini, meski telah melalui berkalpa-kalpa tanpa awal, selalu sama. Ia tak pernah hidup ataupun mati, muncul ataupun menghilang, bertambah ataupun berkurang. Ia tak suci ataupun ternoda, baik ataupun buruk, lampau ataupun mendatang. Bukan benar ataupun salah. Bukan pria ataupun wanita. Tak muncul sebagai bhiksu ataupun orang awam, senior ataupun pemula, suciwan ataupun orang bodoh, buddha ataupun orang awam. Ia tak berjuang mencari realisasi dan tak menderita karma. Ia tak punya kekuatan ataupun wujud. Ia bagaikan angkasa. Kamu tak bisa memilikinya dan tak bisa kehilangannya. Gerakannya tak terhalangi oleh gunung, sungai, ataupun tembok batu. Kekuatannya yang tak bisa dihentikan mampu menembusi Gunung Lima Skandha dan menyeberangi Sungai Samsara. Tiada karma yang mampu menjerat tubuh sejati ini. Namun pikiran ini begitu lembut dan sulit untuk dilihat. Ia tak sama dengan pikiran sensual (ket: inderawi). Semua orang juga ingin melihat pikiran ini, dan mereka yang menggerakkan tangan dan kakinya dengan menggunakan sinarnya banyaknya bagaikan butiran pasir di sepanjang Sungai Gangga, tapi saat kamu menanyakan kepada mereka, mereka tak bisa menjelaskannya. Mereka bagaikan wayang. Pikiran ini milik mereka untuk digunakan. Tapi kenapa mereka tak bisa melihatnya?

Sang Buddha mengatakan kalau orang-orang sedang tersesat. Itulah kenapa saat mereka bertindak, mereka terjatuh ke dalam sungai kelahiran dan kematian yang tiada berujung. Dan saat hendak keluar, yang ada malah terjerumus lebih dalam. Semua ini karena mereka tak melihat kodratnya sendiri. Kalau saja orang-orang tak tersesat, kenapa mereka tak bertanya tentang sesuatu yang ada di depan mata mereka? Tak ada satupun dari mereka yang paham mengenai gerakan tangan dan kakinya sendiri. Makanya Sang Buddha tak salah. Orang-orang tersesat tak tahu siapa diri mereka. Hanya seorang Buddha sajalah yang tahu akan sesuatu yang sangat susah untuk dilukiskan. Hanya orang bijak yang paham mengenai pikiran, pikiran ini dinamakan sebagai kodrat, pikiran ini dinamakan sebagai pembebasan. Kehidupan ataupun kematian tak mampu mengekang pikiran ini. Tak ada satupun yang mampu. Oleh karenanya ia dinamakan sebagai Tathagata yang Tak Bisa Dihentikan, Yang Tak Dapat Dipahami, Jati Diri yang Kudus, ia yang Abadi, Suciwan nan Agung. Namanya bisa berbeda-beda, namun esensinya sama. Para Buddha juga berbeda-beda, namun tak satupun yang meninggalkan pikirannya sendiri. Kapasitas pikiran tak ada batasnya, dan manifestasinya juga tiada habis-habisnya. Melihat wujud dengan matamu, mendengarkan suara dengan telingamu, mencium bau dengan hidungmu, merasakan citarasa dengan lidahmu, setiap gerakan ataupun kondisi merupakan keseluruhan pikiranmu. Di segala saat, di mana bahasa tak mampu menembusi, itulah pikiranmu.

Di dalam sutra dikatakan, “Wujud seorang Tathagata banyak tiada batas. Begitu pula dengan kesadarannya.” Berbagai macam wujud yang tak terhingga dikarenakan pikirannya. Kemampuannya untuk membedakan berbagai macam hal, apapun gerakannya ataupun keadaannya, adalah kesadaran sang pikiran. Namun sang pikiran tak punya wujud dan kesadarannya tak ada batasnya. Demikianlah maka dikatakan, “Berbagai wujud seorang Tathagata tiada habisnya, begitu pula dengan kesadarannya.” Tubuh materi yang terdiri dari empat elemen merupakan masalah. Tubuh materi juga tunduk pada kelahiran dan kematian. Namun tubuh yang sejati sudah ada tanpa diadakan, karena tubuh sejati seorang Tathagata tak pernah berubah. Di dalam sutra dikatakan, “Orang-orang harus sadar bahwa kodrat buddha adalah sesuatu yang mereka semua selalu miliki.” Kashyapa cukup merealisasikan kodratnya sendiri.

Kodrat kita merupakan sang pikiran. Dan sang pikiran adalah kodrat kita. Kodrat ini sama dengan pikiran dari semua Buddha. Para Buddha dari masa lalu dan masa mendatang hanya mentransmisikan pikiran ini saja. Di luar pikiran ini tak ada Buddha di manapun juga. Namun orang-orang yang tersesat tak menyadari bahwa pikiran mereka sendiri adalah Sang Buddha. Mereka terus-menerus mencari di luaran sana. Mereka tak pernah berhenti mengundang para Buddha atau memuja para Buddha, serta keheranan sebenarnya Buddha ada di Mana? Jangan menikmati ilusi semacam ini. Cukup ketahui pikiranmu sendiri. Di luar pikiranmu tak ada Buddha yang lain. Tertulis di dalam berbagai sutra, “Semua hal yang punya wujud merupakan ilusi.” Dikatakan juga bahwa, “Di manapun kamu berada, di sana ada seorang Buddha.” Pikiranmu adalah Sang Buddha. Jadi jangan menggunakan seorang Buddha untuk memuja seorang Buddha.

Bahkan bila seorang Buddha atau Bodhisattva tiba-tiba muncul di hadapanmu, tak perlu memberikan penghormatan. Pikiran kita ini kosong dan tak berisikan wujud semacam itu. Mereka yang terpaku pada penampakan adalah iblis. Mereka melenceng dari Sang Jalan. Kenapa memuja ilusi yang dilahirkan oleh pikiran? Mereka yang memuja tak mengetahuinya, sedangkan mereka yang mengetahui tak akan memuja. Dengan memuja, kamu terjerat sihir sang iblis. Aku menjelaskan hal ini karena aku kuatir kamu tak menyadari hal ini. Kodrat dasar seorang Buddha tak memiliki wujud. Ingatlah selalu, bahkan bila ada wujud tak lazim yang muncul. Jangan direngkuh, jangan pula ketakutan, dan jangan ragu kalau Pikiranmu pada dasarnya suci murni. Di mana bisa ada tempat untuk wujud seperti itu? Lagipula, penampakan roh, setan, atau malaikat tak menimbulkan rasa hormat ataupun takut. Karena pada dasarnya pikiranmu adalah kosong. Semua penampakan jugalah ilusi. Jangan terpaku pada penampakan. Bila kamu membayangkan seorang Buddha, Dharma, atau seorang Bodhisattva dan memberikan hormat kepada mereka, maka kamu menurunkan derajatmu ke tingkat orang awam. Kalau kamu mencari pemahaman langsung, jangan melekat pada penampakan apapun juga, dan kamu akan berhasil. Aku tak punya nasihat lain. Berbagai sutra menuliskan, “Segala penampakan adalah ilusi belaka.” Mereka tak punya keberadaan yang tetap, ataupun wujud yang konstan. Mereka tak abadi. Janganlah melekat pada penampakan dan kamu akan menjadi satu pikiran dengan Sang Buddha. Di dalam sutra dikatakan, “Mereka yang terbebas dari segala macam wujud adalah Sang Buddha.”

Tapi kenapa kita jangan memuja para Buddha dan Bodhisattva?

Iblis dan setan memiliki kesaktian manifestasi (pengejawantahan). Mereka mampu menciptakan penampakan berbagai bodhisattva sebagai kedoknya. Namun mereka palsu adanya. Tak satupun dari mereka adalah Buddha. Sang Buddha adalah pikiranmu sendiri. Jangan sampai salah memuja.

Buddha, dalam Bahasa Sansekerta, adalah yang kamu sebut sebagai “sadar”, “dengan ajaibnya tersadarkan”. Menanggapi sesuatu, melengkungkan alismu, mengedipkan matamu, menggerakkan tangan dan kakimu, semuanya adalah kodratmu yang sadar dengan ajaibnya. Dan kodrat inilah yang dinamakan Sang Pikiran. Dan Sang Pikiran adalah Sang Buddha. Dan Sang Buddha adalah Sang Jalan. Dan Sang Jalan adalah Zen. Namun kata Zen ini masih merupakan teka-teki bagi orang-orang awam maupun suciwan. Melihat kodratmu adalah Zen. Bila kamu tak melihat kodratmu, itu bukanlah Zen.

Bahkan kalaupun kamu bisa menjelaskan beribu-ribu sutra dan sastra, namun bila kamu tak melihat kodratmu sendiri, ajaranmu adalah ajaran orang awam, bukan seorang Buddha. Sang Jalan yang sejati sebegitunya mulia. Ia tak dapat diekspresikan lewat bahasa. Jadi apa gunakanya kitab suci? Hanya ia yang melihat kodratnya sendiri yang menemukan Sang Jalan, bahkan meski ia tak mampu membaca sepatah kata pun. Ia yang melihat kodratnya sendiri adalah seorang Buddha. Dan berhubung tubuh seorang Buddha pada hakekatnya suci dan tak bernoda, serta apapun yang diucapkannya adalah ekspresi dari pikirannya, yang pada dasarnya kosong, maka seorang Buddha tak dapat ditemukan di dalam kata-kata atau di manapun di dalam 12 kanon.

Sang Jalan pada dasarnya sempurna. Ia tak membutuhkan proses penyempurnaan. Sang Jalan tak punya wujud ataupun suara. Ia lembut dan sukar dirasakan. Seperti saat kamu meminum air: kamu tahu seberapa panas atau dinginnya air itu, tapi kamu tak bisa memberitahukannya kepada orang lain. Hal-hal yang hanya diketahui oleh seorang Tathagata, maka orang-orang awam dan para dewa tak pernah menyadarinya. Kesadaran orang awam sungguhlah rendah. Selama mereka melekat pada wujud penampakan, mereka tak akan menyadari bahwa pikiran mereka sesungguhnya kosong.

Dan salah melekati pada penampakan berbagai macam hal, menyebabkan mereka kehilangan Sang Jalan. Kalau kamu tahu bahwa semua hal datang dari dalam pikiran, maka janganlah melekat. Sekali saja melekat, kamu bisa tak sadar diri. Dan begitu kamu melihat kodratmu sendiri, keseluruhan kanon menjadi bagaikan prosa yang panjang. Beribu-ribu sutra dan sastra hanyalah mengenai pikiran yang jernih. Pemahaman datang di tengah-tengah kalimatnya. Jadi kitab suci seberapa bergunanya? Kebenaran tertinggi itu melampaui kata-kata. Sedangkan doktrin kitab suci hanyalah kata-kata belaka.

Mereka bukanlah Sang Jalan. Karena Sang Jalan tak terekspresikan lewat kata-kata. Mereka tak berbeda dengan hal-hal yang muncul di dalam mimpimu di malam hari, mau muncul istana ataupun kereta, taman ataupun singa di tepian danau; jangan menjadi senang dan puas akan hal-hal seperti itu. Mereka adalah buaian lingkaran kelahiran dan kematian. Ingatlah selalu akan hal ini saat kamu sudah mendekati ajalmu. Jangan melekat pada penampakan, dan kamu akan mampu menembus semua halangan. Sesaat saja kamu ragu-ragu, maka kamu akan terjerat sihir iblis. Tubuh sejatimu itu suci dan tak terpengaruh apapun juga. Namun karena tertutup berbagai macam khayalan, kamu jadi tak mampu menyadarinya. Dan karena hal ini juga kamu menderita karma dengan sia-sia. Di manapun kamu menemukan kesenangan, di sana kamu akan terjerat. Tapi sekali kamu tersadarkan akan tubuh dan pikiran sejatimu, kamu tak lagi terjerat oleh kemelekatan.

Siapapun juga, yang melepaskan hal-hal transenden demi hal-hal duniawi, dengan berbagai macam perwujudannya, adalah orang awam. Namun seorang Buddha adalah ia yang menemukan kebebasan dalam nasib baik maupun buruk. Demikianlah kesaktiannya sampai-sampai karma juga tak mampu mencengkeramnya. Ada karma seperti apapun, Buddha akan mengubahnya. Surga dan neraka tak berarti baginya. Tapi kesadaran orang awam sungguhlah redup bila dibanding kesadaran Buddha yang mampu menembusi apapun luar-dalam. Jadi kalau kamu tak yakin, janganlah bertindak. Sekali kamu bertindak, kamu akan mengembara melalui kelahiran dan kematian, serta menyesal karena tak punya naungan (perlindungan/sarana). Kemiskinan dan kesusahan diciptakan oleh pikiran yang salah. Untuk memahami pikiran ini, kamu harus bertindak tanpa bertindak. Hanya dengan itulah kamu nantinya akan mampu melihat berbagai hal dari sudut pandang seorang Tathagata.

Tapi saat pertama kali kamu mulai menapaki Sang Jalan, kesadaranmu tak akan terfokus. Janganlah ragu karena hal-hal seperti itu datang dari pikiranmu sendiri, bukan dari tempat lain.

Bila, seperti di dalam mimpi, kamu melihat sinar yang lebih cemerlang dibanding matahari, sisa-sisa kemelekatanmu tiba-tiba akan berakhir dan kodrat sejati akan muncul. Kejadian seperti itu akan menjadi dasar pencerahan. Tapi hal ini hanya kamu saja yang tahu. Kamu tak bisa menjelaskannya kepada orang-orang. Atau bila, saat kamu sedang berjalan, berdiri, duduk, atau berbaring di taman yang sunyi, kamu melihat sinar, baik yang terang ataupun redup, jangan beritahukan kepada orang-orang, dan jangan berfokus kepadanya. Ia hanyalah sinar dari kodratmu sendiri.

Atau bila, saat kamu sedang berjalan, berdiri, duduk, atau berbaring dalam keheningan dan gelapnya malam, semuanya nampak (bersinar) seperti di siang hari, janganlah kaget. Ia hanyalah pikiranmu sendiri yang hendak menampakkan dirinya.

Atau bila, saat kamu sedang bermimpi di malam hari, kamu melihat bulan dan bintang-bintang bersinar dengan cemerlang, itu berarti bekerjanya pikiranmu akan segera berakhir. Tapi jangan beritahukan kepada orang-orang. Dan bila mimpimu tak jelas, seakan-akan kamu sedang berjalan di dalam kegelapan, itu karena pikiranmu tertutupi kekuatiran. Hal ini juga suatu hal yang kamu sendiri yang mengetahuinya. Kalau kamu telah melihat kodratmu sendiri, kamu tak perlu lagi membaca sutra atau mengundang para Buddha. Pembelajaran dan Pengetahuan tak hanya tak berguna, mereka juga akan menutupi kesadaranmu. Doktrin ajaran hanya digunakan untuk menunjuk pada pikiran. Tapi begitu kamu melihat pikiranmu, buat apa masih memperhatikan doktrin-doktrin lagi?

Dalam proses dari orang awam sampai menjadi Buddha, kamu harus mengakhiri karma, memelihara kesadaranmu, dan menerima apa yang kehidupan bawakan untukmu. Kalau kamu selalu marah, yang ada malah kamu melawan Sang Jalan. Sungguh tak ada gunanya menipu dirimu sendiri. Para Buddha bergerak bebas melewati kelahiran dan kematian, muncul dan menghilang kapanpun juga. Mereka tak bisa dikekang oleh karma atau ditundukkan oleh para iblis. Demikianlah saat orang-orang awam melihat kodrat mereka sendiri, semua kemelekatan akan berakhir. Kesadaran bukannya tersembunyi, dan kamu hanya bisa menemukannya di saat ini juga. Hanya saat ini! Bila kamu sungguh-sungguh ingin menemukan Sang Jalan, jangan terpaku dan melekat pada apapun juga. Begitu kamu mengakhiri karma dan memelihara kesadaranmu, segala macam kemelekatan yang masih ada akan berakhir. Pemahaman akan muncul dengan sendirinya. Bahkan kamu tak perlu mengusahakannya. Tapi para fanatik tak paham yang dimaksudkan Sang Buddha. Dan semakin keras mereka mencobanya, semakin jauh mereka dari yang dimaksud oleh Suciwan. Sepanjang hari mereka mengundang para Buddha dan membaca sutra, tapi tetap saja tak melihat kodratnya sendiri yang ilahi. Demikianlah mereka tak bisa melepaskan diri dari Sang Roda.

Seorang Buddha adalah orang yang menganggur. Ia tak pergi berkeliling mengejar keuntungan dan ketenaran. Memangnya hal-hal seperti itu pada akhirnya ada gunanya? Orang-orang yang tak melihat kodrat mereka sendiri dan berpikir kalau membaca sutra, mengundang para Buddha, belajar dengankeras dalam jangka waktu yang lama, berlatih di pagi dan malam, tak pernah berbaring, atau mendapatkan pengetahuan, menganggap semua itu sebagai Dharma – justru sebenarnya malah menghujat Dharma. Para Buddha dari masa lalu dan masa mendatang hanya membahas mengenai melihat kodratmu. Semua sadhana tiada yang abadi. Kalau tak bisa melihat kodrat sendiri, maka mereka yang mengaku telah mencapai pencerahan yang sempurna dan tiada tandingannya adalah para pembohong. Di antara sepuluh murid teragung Shakyamuni, Ananda adalah yang terkemuka dalam pembelajaran. Namun ia tak memahami Sang Buddha. Yang ia lakukan hanyalah belajar dan mengingat-ingat saja. Para Arhat tak memahami Sang Buddha. Yang mereka pahami adalah ada banyak sadhana untuk mencapai realisasi, dan mereka menjadi terperangkap oleh sebab-dan-akibat. Demikian karma orang awam: tak bisa melepaskan diri dari kelahiran dan kematian. Dengan melakukan hal-hal yang berlawanan dengan yang diajarkan, orang-orang tersebut yang ada malah menghujat Sang Buddha. {Catatan penerjemah: bagian berikut bukan ajakan untuk membunuh.} Membunuh merekapun juga bukan tindakan yang salah, karena dikatakan di dalam Sutra, “Berhubung para icchantika tak mampu mempercayai, membunuh mereka juga tak akan disalahkan, sedangkan orang yang percaya akan mencapai tingkat Kebuddhaan.”

Kalau kamu tak melihat kodratmu sendiri, maka kamu tak boleh mengkritik kebaikan orang-orang lain. Sungguh tak ada manfaat dari menipu dirimu sendiri. Baik dan buruk sudah jelas berbeda. Sebab dan akibat juga jelas. Surga dan neraka ada di depan matamu. Namun orang-orang bodoh tak mempercayainya dan langsung terjatuh ke neraka yang gelapnya tiada berujung tanpa menyadarinya. Yang menghalangi mereka untuk mempercayainya adalah beratnya karma mereka sendiri. Bagaikan orang buta yang tak percaya ada hal yang namanya sinar, bahkan bila kamu harus menjelaskan kepada orang-orang seperti ini, mereka masih saja tak percaya, karena mereka buta. Mohon tanya bagaimana caranya mereka membedakan sinar?

Sama halnya dengan orang-orang bodoh di kaum rendahan atau di antara orang miskin dan hina. Mereka tak hidup, juga tak mati. Dan meski menderita seperti itu, kalau kamu tanya mereka, mereka akan bilang kalau merasa bahagia seperti para dewa. Demikianlah semua orang awam, bahkan mereka yang merasa dirinya mendapatkan kelahiran yang baik pun sama tak sadarnya. Karena karma mereka yang berat, orang-orang bodoh seperti itu tak akan percaya dan tak bisa terbebaskan.

Orang-orang yang melihat bahwa pikiran mereka adalah Sang Buddha, tak perlu mencukur rambutnya; karena orang awam juga Buddha. Kalau tak melihat kodratnya sendiri, maka mereka yang mencukur rambutnya sungguhlah para fanatik.

Namun berhubung orang-orang awam yang menikah tak melepaskan seks, bagaimana caranya mereka menjadi Buddha?

Aku hanya membahas mengenai melihat kodratmu saja. Aku tak membahas tentang seks hanya karena kamu tak melihat kodratmu. Begitu kamu melihat kodratmu, seks pada dasarnya tak penting. Ia akan berakhir sejalan dengan kesenanganmu di dalamnya. Bahkan bilapun beberapa kebiasaan masih tersisa, mereka tak bisa mencelakaimu, karena kodratmu pada intinya adalah suci. Meski tinggal di dalam tubuh materi yang terdiri dari empat elemen, kodratmu pada dasarnya suci. Ia tak dapat dirusak.

Tubuhmu pada dasarnya adalah suci. Ia tak dapat dirusak. Tubuh sejatimu tak punya sensasi, tak kelaparan ataupun kehausan, tak kepanasan ataupun kedinginan, tak menderita sakit, tiada cinta ataupun kemelekatan, tiada kesenangan ataupun kesakitan, tiada baik ataupun buruk, tiada pendek ataupun panjang, tiada kelemahan ataupun kekuatan. Sebenarnya tiada apapun di sini. Justru karena kamu melekat pada tubuh materi ini maka hal-hal seperti lapar – haus – panas – dingin – sakit muncul. Begitu kamu berhenti melekat dan membiarkan semuanya berjalan sebagaimana adanya, kamu akan terbebaskan, bahkan dari kelahiran dan kematian. Kamu akan mengubah segala hal. Kamu akan memiliki kesaktian batin yang tak dapat dihalangi. Dan kamu akan selalu merasa damai di manapun kamu berada. Kalau kamu meragukan hal ini, kamu tak akan menembusi apapun. Lebih baik jangan lakukan apapun. Karena begitu kamu bertindak, kamu tak mampu menghindari siklus kelahiran dan kematian. Namun begitu kamu melihat kodratmu, kamu adalah seorang Buddha meski mata pencaharianmu adalah menjadi tukang jagal.

Tapi bukankah para penjagal menciptakan karma dengan membunuh binatang? Bagaimana caranya mereka bisa menjadi Buddha?

Aku hanya membahas mengenai melihat kodratmu. Aku belum membahas mengenai menciptakan karma. Apapun yang kita lakukan, karma kita tak bisa mencengkeram kita. Setelah melewati berkalpa-kalpa tanpa awal, orang-orang terjatuh ke dalam neraka hanya karena mereka tak melihat kodratnya sendiri. Selama seseorang menciptakan karma, ia akan terus melewati roda kelahiran dan kematian. Namun begitu ia merealisasikan kodrat sejatinya, ia berhenti menciptakan karma. Kalau ia tak melihat kodratnya, memanggil para Buddha juga tak akan membebaskannya dari karmanya, meski ia tukang jagal ataupun bukan. Namun begitu ia melihat kodratnya, semua keraguan akan sirna.  Bahkan karma seorang tukang jagal tak akan berpengaruh pada orang seperti itu. Di India, 27 patriak hanya mentransmisikan jejak sang pikiran saja.

Dan alasan utama aku datang ke China adalah untuk mentransmisikan ajaran seketika dari Mahayana. Bahwa pikiran ini adalah Sang Buddha. Aku tak membahas tentang sila, bhakti ataupun praktik-praktik pertapaan asketik seperti membenamkan diri ke dalam air dan api, menapaki roda pisau, makan sekali dalam sehari, ataupun tak pernah berbaring. Hal-hal ini merupakan ajaran-ajaran fanatik dan sementara belaka. Begitu kamu menyadari gerakanmu, maka kamu secara ajaib akan menyadari kodratmu.

Pikiranmu adalah pikiran dari semua Buddha. Para Buddha dari masa lampau dan masa mendatang hanya membahas mengenai transmisi pikiran ini.

Mereka tak mengajarkan hal-hal lain kalau seseorang paham akan ajaran ini, bahkan bilapun ia buta huruf ia tetaplah seorang Buddha. Bila kamu tak melihat kodratmu sendiri yang tersadarkan dengan ajaibnya, kamu tak akan pernah menemukan seorang Buddha meski kamu memecah tubuhmu hingga menjadi butiran-butiran atom.

Sang Buddha adalah tubuhmu yang sesungguhnya, pikiran sejatimu. Pikiran ini tak berwujud atau tak punya karakteristik, tak ada sebab ataupun akibat, tak punya otot ataupun tulang. Ia bagaikan angkasa. Kamu tak bisa memegangnya. Ia bukanlah pikiran materialis ataupun nilihis. Kecuali seorang Tathagata, tak ada siapapun – orang awam ataupun yang tersesat – yang mampu memahaminya.

Namun pikiran ini bukan berada di luar tubuh materi yang dibentuk dari empat elemen. Tanpa pikiran ini, kita tak akan bisa bergerak. Tubuh sendiri tak punya kesadaran. Layaknya tumbuhan atau batu, tubuh ini tak punya kodrat. Jadi bagaimana ia bisa bergerak? Pikiranlah yang bergerak. Bahasa dan perilaku, persepsi dan konsep – semuanya adalah fungsi dari pikiran yang bergerak. Semua gerakan adalah gerakan sang pikiran. Gerakan adalah fungsinya. Selain gerakan tak ada yang namanya pikiran, dan selain pikiran tak ada yang namanya gerakan. Tapi gerakan bukanlah pikiran. Dan pikiran bukanlah gerakan. Gerakan pada dasarnya tiada pikiran. Dan pikiran pada dasarnya tanpa gerakan. Tapi gerakan tak bisa ada tanpa pikiran. Dan pikiran tak akan ada tanpa gerakan. Pikiran dan gerakan saling bersanding dan tak terpisahkan. Gerakan adalah fungsi pikiran, dan fungsinya tampil dalam bentuk gerakan. Meski demikian, pikiran tidaklah bergerak maupun berfungsi, inti dari fungsinya adalah kekosongan, dan kekosongan pada dasarnya tiada pergerakan. Gerakan sama dengan pikiran. Dan pikiran pada dasarnya tiada pergerakan. Demikianlah maka berbagai sutra memberitahu kita untuk bergerak tanpa melakukan gerakan, bepergian tanpa bepergian, melihat tanpa melihat, tertawa tanpa tertawa, mendengar tanpa mendengar, mengetahui tanpa mengetahui, menjadi bahagia tanpa menjadi bahagia, berjalan tanpa berjalan, berdiri tanpa berdiri. Dan sutra-sutra juga mengatakan, “Lampauilah bahasa. Lampauilah pemikiran.” Pada dasarnya, melihat, mendengar, dan mengetahui – sepenuhnya kosong. Kemarahanmu, kebahagiaanmu, ataupun rasa sakit – semua bagaikan kemarahan, kebahagiaan ataupun rasa sakit si wayang. Kamu mencarinya tapi tak menemukan satu hal pun.

Menurut sutra, perbuatan jahat akan menghasilkan kesukaran, dan perbuatan baik menghasilkan berkah. Orang-orang pemarah masuk ke neraka, dan yang bahagia masuk ke surga. Namun begitu kamu tahu bahwa kodrat dari amarah dan sukacita adalah kosong, dan kamu mampu melepaskannya, kamu telah membebaskan dirimu dari karma. Kalau kamu tak melihat melihat kodratmu, mengutip sutra juga tak akan membantu. Aku masih bisa bicara lebih jauh, tapi ceramah pendek yang ini sudahlah cukup.

[Akhir dari ceramah aliran darah]

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom

Share Button

Recent Posts

Speak Your Mind

*