Tugas Koan – Komentar [2]

Dibagikan dari masukan teman-teman beserta tambahan anotasi oleh Lotuschef – 15 November 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 公安作业 Koan Assignment – Comments [2]
Baca juga: Tugas – Koan

Cobalah lihat foto-foto di atas dengan lebih dekat. Mereka diambil saat Mahaguru mengunjungi Singapura di bulan Desember 2008.
Mahaguru sungguh dilindungi oleh banyak Dharmapala, mereka tak kasat mata! :)

~~~~~~

[— Fashi sayang,

Setelah membaca kutipan tugas, berikut beberapa pandangan dariku:

ZZ telah melakukan sebuah hal baik karena masih berniat untuk menolong orang-orang, meski ia sudah keluar dari (kepengurusan) 2 rumah ibadah yang ia telah bantu dirikan sebelumnya.
Sampai sekarang masih mempraktikkan bodhicitta lewat menolong orang-orang.

Ia mendirikan YY setelah keluar dari 2 rumah ibadah.
Bukan hal yang mudah untuk dihadapi saat orang-orang di dalam organisasi menyusahkannya dan ia masih melaksanakan sumpahnya.

Meski begitu, aku tak tahu apa yang terjadi hingga ZZ akhirnya memutuskan untuk keluar dari 2 rumah ibadah tersebut.
Selain menjadi orang penting di dalam organisasi, pastinya ada banyak usaha, sumber daya, dan waktu yang ZZ telah abdikan. Buat kebanyakan orang, hal seperti ini pasti menimbulkan sebuah kekecewaan besar, dan bisa banyak yang pergi dan melupakan sumpah yang telah dibuatnya.
Tapi, ZZ masih terus menolong orang.

Bagian dari kutipan yang tertulis “MENOLONG PARA INSAN DI LUAR” mengesankan kalau ia membeda-bedakan orang-orang.
Dan kukira mempraktikkan kesetaraan adalah salah satu hal yang Mahaguru selalu ajarkan.

Di kutipan tersebut tertulis “berperan penting dalam membangun 2 cabang rumah ibadah, namun karena ada beberapa perselisihan ia keluar dan mendirikan YY”, aku tak yakin tentang hal ini tapi memberiku kesan kalau dia berpikir bisa menjalankan sumpahnya lewat organisasi.

Kalau dia berpikir demikian, berarti dia mungkin berpikir sama sepertiku dulu.
Dulu aku sering berpikir kalau kita ingin mendukung pembabaran dharma atau aksi amal, kita perlu mendirikan rumah ibadah (berhubung rumah ibadah adalah tempat untuk orang-orang berdoa) dan mengadakan acara amal untuk berbuat kebaikan bagi sesama.

Tapi setelah merenungi artikel-artikel yang kamu tulis dan publikasikan, kurasa memang ada banyak cara untuk mendukung Mahaguru dan pembabaran dharma. Kita pun bisa melatih diri dengan berbagai macam cara.

“… Ia ingin memastikan dharma Ordo Satya Buddha tetap terus disebarkan, demi membalas budi kemurahan hati Mahaguru.
Dari kutipan di atas, adalah hal yang baik untuk berbagi dharma Ordo Satya Buddha, tapi turut berharap supaya dia membabarkan versi yang benar.

Seperti yang kuamati, ada banyak murid Ordo Satya Buddha yang punya niat untuk membabarkan dharma, tapi malah berakhir membimbing orang-orang ke pola pikir yang salah.

Begitulah pandanganku untuk tugas kali ini. Kiranya bila tidak menganalisanya dengan benar, mohon berikan petunjuk sehingga aku bisa belajar dari hal ini juga.

Terima kasih fashi, dan semoga hari Sabtu-mu menyenangkan! —]

~~~~~~~~~~~~

Murid di atas menuliskan pandangannya yang jujur. :)

Ia juga membawa sudut pandang yang baru juga! (Lihatlah bagian yang digarisbawahi).

Hahaha!

Ada apa yang kurang dalam semua komentar yang kuterima?

Adalah arti dari Pelatihan Diri!

Mengapa seseorang memilih untuk melatih diri?
Berikut ini adalah tulisan dari Mahaguru:

 [— 修九節佛風可通中脈

所以,我們行者修行的「行」字就是在這裡。
Demikianlah arti dari [Menjalankan/Melaksanakan] ada di sini.

如果你像一般人一樣,稱甚麼修行人呢?
Kalau jadi seperti kebanyakan orang, maka tak bisa disebut sebagai Sadhaka.

修行人就是跟一般人不同才叫做行者。
Ia yang menjadi sadhaka akan berbeda dari kebanyakan orang.

不同的原因在哪裡呢?
Di mana letak perbedaannya?

世俗人有的七情六欲、愛恨情仇都是有病的。
Insan awam punya 7 macam emosi dan 6 nafsu – Cinta dan Benci sama saja semuanya juga merupakan penyakit.

只有修行人可以平等視眾生,對任何人不會起厭憎仇恨,這樣的行者才叫做修行,這是最基本的。
Hanya para sadhaka yang mampu melihat semua insan dengan Kesetaraan, oleh karenanya Kebencian tak akan muncul. Demikianlah sadhaka semacam ini barulah yang disebut melatih diri. Ini hal yang sangat mendasar.

所謂修行人就是修正自己的行為,能夠禮佛就要懺悔;只要犯了一次過就要跟佛菩薩做真正的懺悔;身體有疾病,跟佛菩薩做真正的懺悔。
Istilah Sadhaka berarti melatih untuk Memperbaiki Kebiasaan Diri Sendiri, menghormati para Buddha dan mau bertobat; tiap kali melakukan kesalahan berarti juga harus bertobat dengan sungguh-sungguh; saat tubuh dilanda penyakit, bertobatlah dengan sungguh-sungguh.

因為都是業障,病就是病的業障,恨就是恨的業障,所有的業障要消除,你才能夠成就。
Seperti halnya penyakit dan kebencian, mereka muncul dari karma buruk diri sendiri. Saat semua karma buruk telah dihapus, kamu pasti akan mendapatkan keberhasilan! —]

~~~~~~

Sepertinya tak ada yang memperhatikan bagian berikut! :)
[— “… Ia ingin memastikan dharma Ordo Satya Buddha tetap terus disebarkan, demi membalas budi kemurahan hati Mahaguru.” —]

Bagaimana hanya dengan pola pikir seorang sadhaka yang sejati dan tulus?

Kutipan mengenai membalas budi kemurahan hati Mahaguru juga ada tingkatannya, seperti 4 tingkat Yoga! Hahaha!

Aku sudah sering berbagi ajaran tentang Pola Pikir, dan dengan segala ketulusan berharap supaya teman-teman pembaca mencari tahu apa yang kumaksud di tulisanku di atas!

Perlu diketahui juga kalau seorang Yogi Sejati harus belajar dan mempraktikkan 6 Paramita.

{— Pāramitā (Pāli; Sansekerta; Dewanagari: पारमिता) atau pāramī (Pāli) berarti “kesempurnaan”.
Di dalam agama Buddha, paramita mengacu pada kesempurnaan atau puncak dari berbagai kemuliaan tertentu. Kemuliaan-kemuliaan tersebut dilatih sebagai sarana untuk menyucikan diri, menyucikan karma dan membantu si penekun yang bersangkutan untuk menjalani hidup tanpa rintangan, sambil berjalan menuju titik akhir pencerahan.

Enam paramita atau “kesempurnaan transenden” (Bhs. Sansekerta. ṣaṭpāramitā; Tibet. ཕ་རོལ་ཏུ་ཕྱིན་པ་དྲུག་, parol tu chinpa druk; Transliterasi Wylie. pha rol tu phyin pa drug) merupakan pelatihan yang dijalankan oleh seorang bodhisattva, yang merupakan pelaksanaan dari bodhicitta.

  1. Kemurahan Hati (Skt. dāna; Tib. སྦྱིན་པ་, jinpa): Melatih sifat kemurahan hati.
  2. Disiplin (Skt. śīla; Tib. ཚུལ་ཁྲིམས་, tsultrim): Tidak mencelakai.
  3. Kesabaran (Skt. kṣānti; Tib. བཟོད་པ་, zöpa): Kemampuan untuk tak terganggu oleh apapun juga.
  4. Ketekunan (Skt. vīrya; Tib. བརྩོན་འགྲུས་, tsöndrü): Turut bersukacita dalam segala hal yang bajik, positif dan luhur.
  5. Konsentrasi Meditatif (Skt. dhyāna; Tib. བསམ་གཏན་, samten): Tidak terpengaruh maupun kebingungan.
  6. Kebijaksanaan (Skt. prajñā; Tib. ཤེས་རབ་, sherab): Mampu membedakan (mendiskriminasikan) berbagai macam fenomena, semua hal yang dapat diketahui.

Lima paramita pertama berhubungan dengan akumulasi (kumpulan) pahala, dan yang ke-enam berhubungan dengan akumulasi kebijaksanaan. Paramita yang ke-enam bisa dipecah menjadi 4 bagian sehingga semuanya menjadi 10 paramita. —}

~~~~~~~

Boleh dikata kalau ZZ tak mempraktikkan paramita?

Dengan menggabungkan semua paramita, ZZ seharusnya akan punya sebuah cara yang Harmonis untuk terus membantu lewat aksi-aksi amal meski Mahaguru menugaskan orang lain untuk memimpin?

Ingatlah Mahaguru pernah bilang kalau beliau tak suka dan tak mau menjadi “Orang yang ingin berkuasa dan tahu segalanya”!
Hahaha!

Mendirikan badan lain yang melakukan aksi amal berarti “melarikan diri” dari situasi di mana orang yang bersangkutan sudah tak punya kuasa (di sana)!
Semua rintangan dan kesulitan bisa dihadapi dengan menggunakan Empat Kebenaran Mulia!

Bagaimana caranya membabarkan atau memastikan supaya dharma satya buddha terus disebarkan kalau orang yang ingin membabarkannya tak punya fondasi buddha dharma yang paling mendasar?

Hmmm… kamu sudah paham apa yang sedang kutunjukkan?

Aku diminta untuk mengalokasikan 30 menit di awal acara amal untuk memberikan ceramah dharma!

DAN apa yang kukatakan?

Aku tak mau “memaksa” siapapun untuk mendengarkan sesuatu hal, hanya karena kita memberi mereka suplai barang-barang kebutuhan!

Karena itu akan jadi seperti menukar barang kebutuhan dengan waktu mereka!

Bila paham akan apa itu Buddha Dharma, orang yang bersangkutan akan membagikannya dengan semua insan dengan cara yang kondusif, dengan selalu mengingat kepribadian dan tingkat akseptansi si penerima.

Contoh yang bagus adalah bagaimana Mahaguru Lu berbagi dharma dengan semua insan!

Berapa banyak yang mampu melakukannya seperti beliau – mampu memikat para pendengarnya dan tetap menjaganya supaya tetap tertarik hingga sesi pembabaran berakhir?

Aku tak berpihak pada mereka yang terus menerus mencoba menjelaskan berbagai konsep dari suaty dharani. Mereka ini, seperti yang Mahaguru bilang, bagai Batu yang tak punya nyawa dan sungguh tak menarik (membosankan)!

Keluwesan adalah apa yang di dalam Pelatihan Diri dinamakan sebagai “Melaksanakan dengan leluasa kapanpun juga”!

Teman-temanku sekalian yang terkasih, kadang kala bila kamu mencoba menjadi “bawahan”, kamu nantinya akan sadar bahwa kamulah yang memberikan kontribusi lebih banyak daripada mereka yang menjadi si ketua!

Aku sudah pernah melihat para “boss besar” atau ketua dari berbagai organisasi amal, yang datang dengan membawa operator kamera, dan setelah penampilannya didokumentasikan, mereka segera menghilang dari lokasi.

Justru para “bawahan”-lah yang berada di sana dan melakukan aksi amal yang sebenarnya dengan menolong dan mendistribusikan barang-barang kebutuhan kepada mereka yang membutuhkan!

Hahaha!
Para boss atau ketua itu benar-benar tak mempraktikkan Bodhicitta sama sekali?

Lihatlah dari lebih banyak sudut pandang, dan Pencerahan akan terwujud dengan usahamu yang tekun dan tulus!

Demikianlah, apakah kamu benar-benar melatih Buddha Dharma?

Salam semuanya.

Lama Lotuschef

Share Button

Recent Posts

Speak Your Mind

*