Instruksi Menunjukkan yang diberikan kepada si Ibu Tua

Diambil dari:

Treasure from JUNIPER RIDGE
Instruksi Berharga nan Mendalam dari Padmasambhava kepada Dakini Yeshe Tsogyal.
Dicatat dan disembunyikan oleh Yeshe Tsogyal.
Dari wahyu Nyang Ral Nyima Özer, Rigdzin Gödem, Sangye Lingpa, Rinchen Lingpa, Dorje Lingpa, Jamyang Khyentse Wangpo, dan Chokgyur Lingpa.

Diterjemahkan dan disunting oleh: Erik Pema Kunsang & Marcia Binder Schmidt.

Dibagikan oleh Lotuschef – 16 Febuari 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: The Pointing-Out Instruction to the Old Lady

 

Saat nirmanakaya, Guru Padmasambhava, diundang oleh Raja Trisong Deutsen dan saat itu sedang tinggal di Samye yang Megah di Batu Merah, seorang Wanita dari Tön yang saleh dan pengabdiannya juga menakjubkan, mengirimkan pembantunya – seorang Wanita bernama Margong, yang juga dikenal dengan nama Rinchen Tso untuk mempersembahkan sarapan pagi yang terdiri dari tahu susu dengan irisan buah anggur.

Lalu, saat sang guru sedang dalam perjalanan-Nya menuju Samye Chimpu, dan saat Beliau sedang melewati gerbang, Wanita Tön ini bersujud di tengah jalan dan berjalan mengitari  Beliau, sambil beranjali di hadapan-Nya, ia berkata: Guru yang agung, kasihanilah aku. Engkau sudah hampir pergi, dan aku, si ibu tua ini juga sudah mau tutup usia.

Pertama-tama, karena aku terlahir sebagai seorang wanita, aku masuk dalam kalangan kelahiran dengan derajat rendah. Karena perhatianku selalu teralihkan oleh berbagai aktivitas, aku lupa akan Dharma. Kedua, karena kecerdasanku yang rendah, akal pikiranku juga lemah. Ketiga, aku merasa kabur karena sudah tua dan pikiranku juga keruh.

Guru yang mulia, kasihanilah aku, berikanlah aku si ibu tua ini sebuah ajaran yang tidak sulit, mudah dicerna dan diaplikasikan, serta sangat efektif. Mohon berikanlah sebuah instruksi untuk seorang ibu tua yang akan segera meninggal ini.

Sang guru menimpalinya: Ibu tua, siapakah dirimu?
Si ibu tua menjawab-Nya: Aku adalah ia yang selalu mengirimkan seorang pembantu rendahan untuk mempersembahkan semangkok tahu susu.
Sang guru dengan penuh sukacita berkata: Wah kamu sungguh seorang yang punya pengabdian lebih besar dibanding Trisong Deutsen.

Lalu Beliau memberikan instruksi kepada si ibu tua bersama dengan pembantunya dengan kata-kata berikut: Ibu tua, duduklah dengan tegap dan silangkan kakimu. Untuk sementara waktu, tenangkan perhatianmu sepenuhnya.

Sang guru mengarahkan jari-Nya ke arah hati si ibu tua tersebut dan memberikan instruksi berikut: Ibu tua, dengarkanlah aku. Bila kamu ditanya apa bedanya antara pikiran para Buddha yang benar-benar sempurna dengan pikiran insan dari tiga alam (triloka), sebenarnya tiada lain terletak pada antara menyadari dan tidak menyadari sifat sejati dari pikiran.

Karena para insan yang berperasaan gagal menyadari sifat sejati ini, maka khayalan muncul dan dari kebodohan ini berbagai jenis penderitaan akan muncul juga. Beginilah makanya para insan berputar-putar di dalam samsara. Sebenarnya bahan baku kebuddhaan ada di dalam diri mereka, namun mereka gagal mengenalinya.

Pertama-tama, bahan baku kebuddhaan ada di dalam dirimu. Lebih khususnya, bahan baku tersebut ada pada manusia yang telah mendapatkan kebebasan dan kekayaan. Lebih lanjut lagi, bukannya berarti para pria berkelimpahan bahan baku kebuddhaan ini, sedangkan para wanita kekurangan. Jadi, meski kamu terlahir sebagai seorang wanita, kamu tidak terhalangi untuk mencapai kebuddhaan.

Pintu-pintu Dharma yang banyaknya 84,000 ini telah diajarkan supaya bisa mengenali dan menyadari pikiran kebijaksanaan para buddha, tapi untuk memahaminya perlu instruksi tiga kata kunci dari seorang guru. Jadi, meski kecerdasanmu rendah dan pikiranmu juga dangkal, kamu tidak dirugikan.

Kini, arti dari Dharma, pikiran buddha, dan instruksi tiga kata kunci dari sang guru adalah sebagai berikut: Dengan memurnikan obyek-obyek yang dilihat/dipahami secara eksternal, persepsimu akan terbebaskan (catatan penerjemah: tidak terpaku) dengan sendirinya. Dengan memurnikan pikiran yang melihat/memahami yang berada di dalam (internal), maka kesadaranmu yang tak melekat akan terbebaskan dengan sendirinya. Karena kesadaran yang terang cemerlang di antara keduanya begitu menyenangkannya, maka kamu mengenali sifat sejati dirimu sendiri.

Bagaimana caranya obyek eksternal yang dilihat bisa dimurnikan? Kesadaran yang sudah ada ini, kondisi pikiran yang telah tercerahkan, tidak terkotori oleh pikiran dan melihatnya sebagai kecemerlangan alami. Biarkanlah seperti itu adanya, dan obyek dilihat/dipahami tanpa melekat padanya. Dengan cara ini, bagaimanapun penampakan muncul, mereka sebenarnya tidak nyata dan tidak dianggap sebagai hal-hal yang aktual (nyata). Jadi, apapun yang kamu lihat, baik itu tanah ataupun batu, gunung ataupun tebing, tanaman ataupun pohon, rumah ataupun kastil, barang ataupun peralatan, teman ataupun musuh, anggota keluarga ataupun pasangan, suami ataupun istri, anak laki ataupun anak perempuan – terhadap semuanya itu dan hal-hal lainnya – kamu tidak turut campur tangan dalam sikap mengklaim kepemilikan; jadi mereka dilihat/dipahami namun tidak diperlakukan dengan cara seperti itu. Bila terbebaskan dari kemelekatan terhadap apapun juga, maka kamu akan termurnikan dari obyek-obyek yang kamu lihat secara eksternal.

Obyek-obyek yang dimurnikan bukan berarti kamu berhenti melihat/memahami. Arti sebenarnya adalah tidak melekat dan pada saat yang bersamaan selalu terang cemerlang nan kosong. Contohnya adalah pantulan dalam sebuah cermin, mereka punya penampakan namun kosong karena tidak ada yang bisa diraih, dan persepsimu ini disebut sebagai “persepsi yang muncul terhadap dirimu sendiri”.

Dengan sarana pikiran di dalam yang melihat yang dimurnikan, berikut adalah instruksi untuk membebaskan kesadaran yang tak melekat di dalam kesadaran itu sendiri: Apapun yang muncul di dalam pikiranmu – aliran pikiran, memori ingatan, atau lima emosi yang beracun – saat kamu tidak berfokus padanya, maka gerakan pikiran tersebut akan hilang dengan sendirinya; oleh karenanya kamu tidak terkotori oleh kekeliruan berpikir.

Sempurna di dalam bukan berarti menjadi batu yang diam kaku. Ia berarti kesadaranmu selalu terbebas dari kecacatan dalam berpikir, analoginya adalah seperti pergi ke sebuah pulau yang terbuat dari emas; di dalam pulau emas ini, tidak ada yang namanya “batu”. Dengan cara yang sama, saat pikiranmu melebur ke dalam kesadaran asal, bahkan tidak ada yang namanya “pikiran”.

Karena kesadaran yang terang cemerlang di antara keduanya begitu menyenangkannya, berikut adalah instruksi untuk mengenali sifat sejati dirimu: Saat melatih diri, bebas dari ketidaktahuan, kesadaran dirimu jernih, murni, dan sepenuhnya sadar. Saat melatih diri, kamu akan mengalami bahwa kesadaran bawaanmu yang telah ada dari sejak awal itu tak terkotori oleh sikap dengan suatu konsep tertentu ataupun melekat pada kenikmatan, kecemerlangan, ataupun tiada pikiran. Karena itulah yang disebut sebagai pikiran buddha, maka kamu telah mengenali sifat sejatimu sendiri.

Kira-kira contohnya seperti kamu tidak perlu membayangkan bahwa ibumu sebagai ibumu, karena kamu tidak punya ketakutan bahwa dia ternyata bukan ibumu. Dengan cara yang sama, saat kesadaranmu mengenali ia adalah sifat sejati dari dharmata yang sudah ada sejak awal, maka kamu tidak akan lagi salah membayangkan bahwa fenomena samsara adalah sifat sejati – bahkan tanpa mengetahuinya sekalipun, kamu tidak pernah terpisahkan dari sifat sejati dharmata ini.

Karena ini yang disebut sebagai pelatihan tanpa sandiwara (tidak dibuat-buat), bunda dharmata adalah kenyataan bahwa semua fenomena tidak punya sifat sejati; tempat tinggal dharmata adalah pengenalan bahwa semua fenomena tidak punya sifat sejati; dan disebut “dirimu sendiri yang mengenali kesejatian dirimu” berhubung kamu mengenali bahwa kesadaranmu adalah ruang dharmadhatu yang sudah ada dari awal.

Begitu kamu telah mengenalinya, maka tidak ada lagi yang namanya kelahiran yang unggul ataupun rendahan, tak ada lagi aktivitas yang mulia maupun rendahan, tak ada lagi akal pikiran yang tajam ataupun tumpul, tak ada lagi kecerdasan tinggi ataupun rendah, tak ada lagi pengetahuan yang luas maupun sempit, tak ada lagi umur panjang ataupun pendek, tak ada lagi pikiran yang jernih maupun keruh.

Inilah sebuah instruksi dengan tingkat kesulitan yang rendah dan mudah dipahami, juga mudah untuk diaplikasikan serta sangat efektif, dengannya kamu tidak akan ketakutan saat ajal menjelang. Ibu tua, latihlah instruksi ini! Tekunlah selalu, karena waktu berjalan terus! Kamu tidak mendapat penghargaan dengan menjadi budak bagi suami dan anakmu, jadi jangan pulang dengan tangan kosong, tapi bawalah selalu bekal instruksi dari gurumu ini! Tugas-tugas dalam hidup ini tidak ada habisnya; jadi capailah kesempurnaan dalam praktek meditasimu!

Ibu tua, simpanlah nasihat ini sebagai temanmu sehingga kamu tidak takut lagi di saat kematian telah datang menjemput!

 

Begitulah yang mulia membabarkan. Dan karena sang guru memberikan instruksi ini sambil menunjukkan jari-Nya ke hati ibu tua tersebut, maka ini dikenal sebagai “Instruksi Menunjukkan yang diberikan kepada si Ibu Tua.” Saat mendengarkannya, si ibu tua dan pembantunya menjadi terbebaskan dan mencapai keberhasilan pelatihan.

Putri Tsogyal dari Kharchen menuliskan ajaran ini demi memberi manfaat bagi generasi-generasi mendatang. Instruksi ini ditulis di lereng Samye sebelah selatan, pada tanggal tujuh belas bulan musim panas kedua tahun Kelinci.

 

Disembunyikan sebagai harta terma demi generasi-generasi mendatang,
Semoga terma ini bertemu dengan manifestasi yang layak!
Semoga terma ini mengajar para insan dengan cara-caranya yang sesuai!
Dengan ini, semoga mereka yang telah ditakdirkan akan membebaskan aliran kesadaran mereka!

SEGEL, SEGEL, SEGEL. ÷

Share Button

Speak Your Mind

*